Cerita inspiratif

Dahsyatnya Do’a

Oleh: Vivi Nur Maulidia

Hujan sejak siang tadi tak kunjung reda, bahkan lebih deras dari sebelumnya. Langit masih terbalut awan hitam, mengisayaratkan bahwa  cuaca yang sama akan menemani lebih lama. Ku layangkan pandang ke sekeliling halaman depan kelas XI IPA 2, beberapa anak tampak asik menjulurkan tangan, membiarkan tetesan air hujan membasahi jari-jari mereka. Ada yang duduk menyendiri di deretan gazebo, sembari membuka lembar demi lembar novel kegemaran, sementara di kanan kirinya banyak pasangan muda yang seolah tak menghiraukan makhluk hidup sekitarnya. Aku masih tetap di sini, duduk bersandar pada dinding kelasku yang semakin terasa dingin, mendekap erat kedua lututku yang kaku, berharap ada sedikit kehangatan yang hadir menyelimuti.

Pikiranku melayang, masih terngiang pengumuman singkat dari wali kelas sebelum bel pulang berdering. Peringatan Hari Kartini. Acara yang seharusnya membuat para siswi bersorak gembira sekaligus bangga karena pada hari itu mereka akan berlomba-lomba menampilkan gaya berpakaian layaknya pejuang perempuan jaman dahulu, yang begitu anggun dan berkharisma. Tapi tidak bagiku, seorang siswi yang selama ini tinggal di asrama, jauh dari orang tua, dan jauh dari sanak saudara. Hanya tersisa waktu tiga hari sebelum acara itu dilaksanaan, dan artinya dalam jeda waktu itulah aku harus berusaha mendapatkan pakaian adat yang menggambarkan sosok Kartini.

“Salma, beli bakso yuk!” Sentuhan tangan Adisty, teman sebangku, membuyarkan lamunanku. Ajakan yang pas menurutku, di saat hujan deras seperti ini menyantap hidangan yang hangat. Tapi,…

“Maaf ya, Dis, tapi aku masih kenyang. Beli saja ndak apa-apa, aku tunggu di sini!” tolakku dengan tersenyum, meyembunyikan teriakan cacing dalam perutku. Sisa uang saku bulan ini sudah menipis, padahal jatahnya masih jalan setengah bulan lagi. Aku harus pandai-pandai berhemat.

Setelah menunggu hampir satu jam, hujan pun berangsur-angsur mereda. Aku dan Adisty biasa pulang bersama karena letak tempat tinggal kami yang berdekatan. Hanya saja dia bisa langsung pulang ke rumahnya dan bertemu dengan keluarganya. Sedangkan aku, sejak dua tahun yang lalu asrama putri ‘Dewi Sartika’ adalah tempat singgahku ketika pulang dari sekolah.

Sudah hampir jam empat sore ketika aku sampai di asrama dan biasanya pada jam-jam inilah rutinitas di kamar mandi mulai padat. Setelah meletakkan tas dan ganti baju, aku bergegas menuju lorong kamar mandi, berharap masih mendapatkan jatah antrian yang belum memanjang. Di tempat inilah biasanya kami, para penghuni asrama, memanfaatkan waktu untuk saling menyapa satu sama lain, bahkan kami bisa saling mengobrol, bertukar cerita dan saling curhat, sembari menunggu giliran mandi. Aku pikir pada kesempatan inilah aku bisa bertanya-tanya dan meminta pendapat mereka terkait pikiran yang menggangguku sejak tadi siang.

Setelah mendengar segala keluh kesahku, beberapa orang seperti berusaha untuk memberikan jalan keluar. Salah seorang di antara mereka mengusulkan bagaimana jika menyewa di tempat persewaan baju adat di ruko-ruko dekat jalan raya. Aku tahu tempat yang dimaksud, namun usulan itu segera ku tolak dengan hati-hati karena khawatir menyinggung perasaan teman yang sudah bersusah payah memberikan masukan. Aku berusaha menjelaskan jika kondisi keuanganku sedang menipis, jadi mereka maklum.

“Kalau aku rencananya mau pinjam punya kakak, besok diantar ke sini.” Suara Reva, teman seasrama sekaligus satu sekolah denganku membuat pandanganku langsung beralih kepadanya.

“Rumah kakakmu dekat dari sini, ya?” Tanyaku.

“Ya lumayan dekat lah, perjalanan dengan sepeda motor tak sampai memakan waktu setengah jam.” Jawabnya.

Aku bisa saja menghubungi keluarga di rumah dan meminta tolong ibu untuk mencarikan pinjaman. Tapi ku buang jauh-jauh pikiran itu mengingat jarak asrama dan rumahku yang sangat jauh, hingga bisa memakan waktu dua jam lamanya, itu pun jika tak mengalami kemacetan. Aku tidak mungkin membiarkan bapak capek mondar-mandir dengan motor bututnya hanya untuk mengantarkan keperluanku yang sebenarnya hanya mengganggu pikiran namun tak ku butuhkan.

Ketika malam tiba, kegalauan pun tetap melanda. Aku sama sekali tak bisa pejamkan mata. Banyangan tentang peringatan Hari Kartini seolah menguasai akal pikiranku. Aku seperti hampir menyerah sebelum melangkah. Sempat terpikirkan untuk absen pada hari itu, tapi dengan alasan apa. Tentu saja nanti aku akan berbohong, tapi harus masuk akal. Dengan alasan ada kepentingan keluarga, sungguh tak mungkin karena aku bukan anak rumahan. Teman asrama pasti tahu aku sedang bersembunyi di sana. Dengan alasan sakit, tapi kondisiku sedang baik-baik saja. Atau dengan pura-pura sakit? Aduh, sungguh pusing memikirkannya.

“Ya Alloh, tolong berikan aku sakit, tapi yang ringan-ringan saja, flu, panas, atau apapun itu, sehingga aku bisa menghindari acara Kartini!” Pintaku dalam hati, dan berharap ketika hari itu datang aku tidak lagi bingung untuk berbohong kepada guru dan teman-temanku. Seolah telah mendapatkan jalan keluar yang terbaik, hingga tak terasa mataku mulai mengantuk. Sebisa mungin ku pejamkan mata dan selanjutya aku pun tertidur pulas.

Esok harinya aku pergi ke sekolah seperti biasa. Tiba di kelas ternyata sudah ramai penghuninya. Ketika hendak meletakkan tas di meja, aku mendengar obrolan beberapa teman sedang membahas acara kartinian. Sontak aku ikut duduk dan mengikuti arah pembicaraan mereka. Rencananya di hari itu akan ada beberapa lomba di antaranya: peragaan busana kartini, pidato, puisi, menghias tumpeng kelas, dan masih banyak yang lainnya. Tentu saja adanya lomba peragaan busana menjadi perhatian tersendiri bagi para siswi. Mereka sudah mulai merencanakan memakai busana seperti apa, berdandan di mana, bahkan sampai mencoba memperagakan cara berjalan dengan lenggak-lenggok layaknya seorang peragawati profesional.

Aku terhibur dengan pemandangan di kelas pagi itu, namun aku merasakan ada yang tidak beres dengan perutku. Rasanya seperti ditusuk-tusuk benda tajam, nyeri, ngilu, sangat menyiksa. Hingga tak kuasa ku menahan tangis di depan teman-temanku. Mereka bingung, mencoba memberikan bantuan sebisanya, bergegas memanggil guru, sampai akhirnya semua terasa gelap. Aku pingsan.

Beberapa saat mataku terbuka, aku sudah berada di ruang UKS. Nyeri di perut masih ku rasakan. Tampak beberapa guru sibuk memberikan pertolongan. Salah seorang guru mengatakan jika orang tuaku sudah dihubungi dan sedang dalam perjalanan ke sekolah. Tentu saja aku kaget, jelas mereka akan khawatir. Rupanya nyeri yang ku rasakan tak kunjung reda, aku berteriak kesakitan. Melihat hal itu, para guru berinisiatif membawaku ke rumah sakit terdekat. Aku hendak menolak tapi tak mampu berucap.

Mobil sekolah melaju cepat.  Pak Hendra yang mengemudikannya. Beruntung aku ditemani Adisty dan dua orang teman sekelas. Sekitar lima belas menit kemudian kami tiba di rumah sakit. Aku langsung dibawa masuk ke ruang IGD, ditangani langsung oleh beberapa tenaga medis. Entah berapa lama aku diperiksa, aku pasrah.

Setelah pintu ruang IGD terbuka, aku bisa melihat kekhawatiran pada wajah teman-temanku. Tapi aku juga melihat sosok lain di sana, bapak dan ibuku, ditemani oleh pamanku. Ya Alloh, mungkin mereka sampai meminta tolong paman untuk mengantar ke sini. Ibu langsung berlari memelukku, memberikan kekuatan agar aku bisa tenang. Dokter menjelaskan kondisiku pada mereka. Ternyata nyeri di dalam perut ini karena usus buntu, dan harus segera dioperasi. Aku kaget setengah mati, bagai tersambar petir mendengar kabar itu. Bagaimana mungkin, aku tidak mengkonsumsi makanan yang aneh-aneh, aku tidak terlalu suka pedas, meskipun hidup di asrama aku sangat menjaga pola makanku. Tapi kenapa, aku bisa terkena usus buntu dan harus operasi?

Sebelum operasi aku harus berpuasa selama beberapa jam. Bapak dan ibu tak henti-hentinya melafalkan dzikir dan doa, memohon pada Alloh agar diberikan yang terbaik untuk putrinya. Sementara Pak Hendra dan teman-teman meminta ijin untuk kembali ke sekolah terlebih dahulu. Sepeninggal mereka, bapak dan ibu berusaha menghiburku, mengurangi ketakutanku. Aku hanya bisa diam dan termenung. Apakah ini jawaban Alloh atas doaku semalam?  Astaghfirullohal’adzim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *