Pemebelajaran PAI 4 – Mengenal Nama-nama Allah SWT dan Kitab-kitab-Nya

Assalamualaikum Warohmatullohi Wabarokatuh

Bagaimana kabar-anak kelas 5 hari ini? Bapak berdoa semoga kita semua tetap dalam lindungan Allah SWT sehingga dapat terus belajar dengan semangat.

Anak-anak sekalian. Pada pelajaran sebelumnya, yakni pelajaran 1 kita belajar tentang Al-Quran yakni surat At-Tin. Kita dapat mengambil kesimpulan pada pelajaran tersebut bahwa kita sebagai manusia adalah ciptaan Allah yang sempurna dibandingkan dengan makhluk lain. Tetapi kita juga akan dikembalikan kedalam keadaan yang serenda-rendahnya. Kecuali kita beriman dan beramal sholeh.

Maka dari itu untuk meningkatkan keimanan kita kepada Allah, pada pembelajaran kali ini kita akan belajar mengenal Allah melalui nama-nama Nya yang indah. Setelah mengikuti pembelajaran kali ini, anak-anak diharapkan:

  1. Mengenal nama-nama Allah Al-Mumit, AL-Hayyu, Al-Qoyyum, Al-Ahad dengan seksama.
  2. Anak-anak dapat menulis sinopsis tentang nama-nama Allah Al-Mumit, AL-Hayyu, Al-Qoyyum, Al-Ahad dengan tepat.

A. Mari Mengenal Allah SWT

Mengenal Allah SWT Melalui Nama-nama Nya

Anak-anak. Ada pepatah mengatakan “tak kenal maka tak sayang”. Ungkapan tersebut memang benar adanya. Bagaimana kita bisa menyayangi sesuatu tanpa mengenalnya. Misalnya saja kepada orang tua, bayangkan jika kita tidak mengenal orang tua kita. Tentu akan sulit kita merasa sayang kepada mereka. Mungkin bahkan kita tidak menganggap mereka orang tua kita. Oleh karena itu mengenal Allah adalah pintu gerbang kita mencintai Allah.

Kita biasanya mengenal orang, barang, atau sesuatu dengan melihat langsung, mendengar atau mencium baunya. Tetapi bagaiman kita mengenal Allah?

Kita tidak bisa secara fisik bertatap muka dengan Allah. Karena panca indera kita seperti mata, telinga, hidung dan sensor sentuh di kulit kita sangat terbatas. Bayangkan saja, telinga manusia hanya dapat mendengar suara dengan frekuensi audiosonik, yakni gelombang suaran berkisar 20 Hz sampai 20.000 Hz. Sedangkan telinga kelelawar dapat mendengar frekuensi suara di atas 20.000 Hz atau ultrasonik. Maka kelelawar dapat terbang dengan cepat dan tidak menabarak benda di depannya karena mereka mengeluarkan suara ultrasonik yang dipantulkan benda di sekitarnya. Jadi pendengaran kita kalah dalam hal menangkap suara frekuansi tinggi dibanding kelelawar. Ada banyak hewan lain yang serupa dengan kelelawar. Coba buka 10 Hewan yang dapat mendengar suara infrasonik.

Oleh karena itu, kita harus mengenal Allah yang bersifat “berbeda dengan mankhluk-Nya” melalui nama-nama Nya yang mengandung sifat-sifat yang mulia. Kita dapat mengetahui adanya aliran listrik pada sebuah kabel tanpa harus mengetahui bentuk listrik. Kita cukup melihat sebuah lampu. Jika lampu menyala, berarti ada aliran listrik. Jika tidak, maka tidak ada aliran listrik pada kabel tersebut. Masuk akal, bukan? Mari kita lanjut.

Sesuatu yang tidak dapat kita lihat belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak dapat kita dengar belum tentu tidak ada. Sesuatu yang tidak dapat kita sentuh atau rasakan belum tentu tidak ada.

Oleh karena keterbatasan manusia, maka Nabi Muhammad SAW, Mahaguru kita menganjurkan memikirkan makhluk Allah sebagai sarana mengenal sang Pencipta. Beliau SAW bersabda:

تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله

(Tafakkaruu fi kholqillahi walaa tafakkaruu fi dzaatillah)

Artinya: “Berfikirlah kalian tentang makhluk Allah, dan jangan berfikir tentang Dzat Allah”

Allah berifirman dalam AL-Quran:

Q.S. Thaha:8

Artinya: “Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik)

Pada pembelajaran kali ini, kita akan belajar mengenal nama-nama Allah Al-Mumit, Al-Hayyu, Al-Qoyyum dan Al-Ahad.

Al-Mumit (المميت)

ِAl-Mumit mengandung arti “Yang Maha Mematikan”. Allah berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ ٱلْمَوْتِ

Artinya: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.”

Potongan ayat tersebut menjelaskan kepada kita bahwa semua makhluk Allah yang bernyawa akan merasakan kematian. Kematian adalah sesuatu hal yang wajar yang akan dialami oleh semua makhluk hidup. Dan Allah lah yang memiliki kekuasaan untuk mematikan setiap mankhluk-Nya.

Segala mara bahaya di dunia ini tidak akan menyebabkan kematian kecuali atas izin dan takdir Allah SWT. Atau sehebat-hebatnya manusia, tidak akan mampu menghindar dari kematian.

Kematian bukanlah akhir dari kehidupan ini. Justru kematian merupakan awal dari kehidupan yang abadi di akhirat. Seperti halnya hari lahir kita yang sering dirayakan sebagai hari ulang tahun, merupakan akhir dari masa kita berada di alam kandungan. Kematian merupakan jalan kembali kepada yang menciptakan kita, Yang membuat kita ada di dunia ini. Oleh karena itu, ketika seseorang meninggal dunia kita mengucapkan Innaa lillahi wainnaa ilaihi roji”uun yang artinya “Sesungghnya kita ini milik Allah, dan kita akan kembali kepada-Nya”.

Oleh karena itu, kita sebagai manusia harus mempersiapkan segala sesuatu untuk menghadapi kematian itu. Dengan berusaha memperkuat keimanan kita dan memperbanyak melakukan kebaikan-kebaikan yang dapat kita bawa saat kemabli menghadap Allah SWT. Kita dianjurkan memperbanyak mengingat kematian agar kita tidak sombong dan sembrono dalam hidup ini.

Al-Hayyu (الحي)

Al-Hayyu mengandung arti “Yang Maha Hidup”. Asma ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah adalah Dzat Yang Maha Hidup. Allah Berfirman:

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ

Potongan surat AL-Baqoroh:255 tersebut, atau dikenal ayat kursi menjelaskan bahwa Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Dzat Yang Maha Hidup, Dzat yang Maha Mengatur makhluk-Nya.

Allah Maha Hidup selama-lamanya atau kekal abadi. Allah tidak pernah mati, yang mengalami kematian adalah makhluk. Karena jika Tuhan mengalami kematian, maka siapa yang mengatur alam semesta seisinya?

Oleh karena itu, kita harus selalu bersyukur atas kehidupan yang telah diberikan Allah. Dengan belajar dan beribadah kepada-Nya. Kita harus menghargi hidup ini. Jangan sampai kita terjerumus kepada hal-hal yang dimurkai Allah. Karena itu berarti kita menyia-nyiakan karunia kehidupan ini.

Al-Qoyyum (القيوم)

Al-Qoyyum artinya berdiri atau mandiri. Maksudnya Allah tidak membutuhkan bantuan dari makhluk-Nya. Allah menguasai, merajai dan mengatur alam semesta ini sendiri. Allah menciptakan alam ini sebelum ada apapun selain Dia.

Ibadah yang kita lakukan semata-mata sebagai bentuk rasa syukur kita kepada-Nya. Allah tidak membutuhkan ibadah kita. Meskipun jika di dunia ini tidak ada orang yang menyembah-Nya, Allah tetaplah Tuhan. Atau jika semua manusia menjadi orang yang taat, maka tidak menambah secuilpun kemuliaan Allah. Tetapi ibadah kita akan bermanfaat bagi kita sendiri.

Allah memberikan contoh supaya kita juga bersikap mandiri. Kita tidak boleh selalu bergantung kepada orang lain. Kita harus yakin bahwa kita diberi kemampuan oleh Allah SWT.

Al-Ahad (الأحد)

ِAl-Ahad berarti Maha Esa. Allah sebagai Tuhan yang menguasai dan mengatur alam semesta ini sudah pasti memiliki sifat Maha Esa. Bayangkan jika ada dua tau lebih yang menguasai dan mengatur alam semesta, pasti akan terjadi kekacauan karena masing-masin gmerasa berhak atas alam ini.

Bayangkan saja jika ada dua orang yang menyetir sepeda motor. Pasti, motor tidak akan sampai pada tujuan, karena masing-masing berebut stir motor itu.

Allah berfirman:

قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ 

Artinya :”(Katakanlah, “Dialah Allah Yang Maha Esa”)

Oleh karena itu, kita tidak boleh memiliki keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang menyamai Allah SWT. Kita harus meng-esakan Allah SWT.

Video Materi

Presensi

One Reply to “Pemebelajaran PAI 4 – Mengenal Nama-nama Allah SWT dan Kitab-kitab-Nya”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *